Galuh Lestari Mandiri Jual Bibit Jati Solomon tinggi minimal 10 cm, hasil Kultur Jaringan, bisa dikirim luar Jawa dengan Stum aman, dan pengemasan Box Styrofoam dan bibit lainnya seperti Sengon, Gmelina, Akasia dan Manglid. Untuk pemesanan bisa menghubungi Nomor Hand Phone : 0812.2058.0066 (Irfan BA, S.Hut)

Minggu, 27 Maret 2011

JATI SOLOMON -bibitjatisolomon.blogspot.com

Secara geologis, tanaman jati tumbuh di tanah dengan batuan induk berasal dari formasi limestone, granite, gneis, mica schist, saandstone, quartzite, conglomerate, shale, dan clay. Pertanaman jati akan tumbuh lebih baik pada lahan dengan kondisi fraksi lem-pung, lempung berpasir, atau pada lahan liat berpasir. Sesuai sifat fisiologis untuk menghasilkan pertumbuhan optimal, jati memerlukan kondisi solum lahan yang dalam dan keasaman tanah (pH) optimum sekitar 6,0. Namun, ada kasus pada beberapa kawasan pertanaman jati dengan tingkat pH rendah (4—5), dijumpai ta¬naman jati dengan pertumbuhan yang baik. Karena tanaman jati sensitif terhadap rendahnya nilai pertukaran oksigen dalam tanah maka pada lahan yang berporositas dan memiliki drainase baik akan menghasilkan pertumbuhan baik pula karena akar akan mudah menyerap unsur hara.

Kondisi kesuburan lahan juga akan berpengaruh terhadap perilaku fisiologis tanaman yang ditunjukan oleh perkembangan riap tumbuh (T-tinggi dan D-diameter). Unsur kimia pokok (macro element] yang penting dalam mendukung pertumbuhan jati yairu sebagai berikut.

1) Kalsium (Ca)
Hara kalsium merupakan unsur penting yang mendukung pertumbuhan meristem batang dan merupakan elemen pemben-tukan dinding sel. Kandungan unsur Ca dalam tanah sering menjadi kendala dalam menentukan areal pengembangan tanaman jati. Tanaman jati yang ditanam di lahan dengan kandungan Ca rendah (8,18—9,27%) menunjukan pertumbuhan yang kurang menguntungkan. Hal ini bisa diatasi dengan penggunaan dolomit & kapur pertanian.

2) Fosfor (P)
Kandungan fosfor (P) juga merupakan unsur penting bagi pertumbuhan tanaman jati. Kandungan optimum unsur P antara 0,022—0,108% atau 19—135 mg/100 g tanah. Secara fisiologis, kandungan P akan sangat sensitif dalam defisiensi unsur. Artinya, lahan yang sangat kekurangan unsur P akan tampak pada per¬tumbuhan jati. Daun jati akan cepat gugur sehingga fotosintesa terganggu, akibatnya pertumbuhan menjadi lambat. Penggunaan pupuk TX-777 yang mengandung biakan bakteri Fosfat akan sangat menguntungkan.
3) Kalium (K)
Unsur potasium atau kalium yang dibutuhkan oleh tanaman jati pada lahan permukaan (top soft) berkisar 0,54—1,80% (45— 625 ppm/100 g) dan pada lahan di bawahnya (under top soil) antara 0,40—1,13% (113—647 ppm/100 g).

4) Nitrogen (N)
Unsur nitrogen (N) merupakan elemen hara yang penting dalam proses pertumbuhan tanaman jati. Kandungan N yang dibutuhkan tanaman jati pada lahan permukaan (top soil) antara 0,13—0,072% dan pada lahan di bawahnya dengan ketebalan hingga 1 meter antara 0,0056—0,05%. Sedangkan rataan N yang dibutuhkan oleh tanaman jati sekitar 0,0039%. Pada areal per-bukitan, kandungan N di lapisan atas sekitar 0,034% dan lahan di bawahnya antara 0,038—0,039%. Untuk kebutuhan Kalium dan Nitrogen ini juga akan ditopang oleh mikroba penyubur tanah yang ada di dalam biakan TX – 777.


Sumber hara pada hutan jati alam ditentukan oleh potensi dan kapasitas bahan organik dari serasah hutan serta tingkat kecepatan proses fermentasi litter yang jatuh (humufikasi). Dalam kenyataan di lapang menunjukan bahwa dengan rataan kapasitas serasah pada tanaman jati berumur 38 tahun diperoleh sekitar 973 kg/ha/tahun. Dengan kapasitas tersebut, serasah mampu mengha¬silkan kadar Ca 370 kg/ha, N 331 kg/ha, K 128 kg/ha,'unsur P dan Mg sekitar 108 kg/ha.

Secara umum, siklus hara tersebut sangat ditentukan oleh kondisi ekosistem setempat. Misalnya kasus di wilayah hutan endemik dari jenis Tectona grandis, dengan kapasitas 775 pohon/ha dan berumur 18 tahun dihasilkan kadar N 166 kg/ha, P 9,2 kg/ha, dan K 89 kg/ha. Hasil tersebut relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan serasah yang dihasilkan dari tanaman Eucalyptus spp., Dalbergia spp., ataupun Pinus spp., yang hanya mampu menghasilkan hara antara 64—67%.

Pada lahan hutan jati alam, kapasitas bahan organik (humus) yang tersedia antara 1,87—5,5% berada di permukaan dan 0,17—1,90% berada sekitar 100 cm di bawah permukaan. Rendahnya nilai kapasitas bahan organik pada lahan jati akan menu-runkan tingkat kecepatan tanaman dalam membentuk perakaran. Terdapat hubungan antara kapasitas hara makro dengan tingkat kecepatan pembentukan akar yang berdampak positif terhadap pertumbuhan riap tanaman jati. Tanaman yang berkembang pada lahan dengan kandungan unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg) yang optimal akan mempunyai perakaran yang baik sehingga proses penyerapan hara semakin cepat dan kemampuan pohon untuk menghasilkan produksi pun semakin tinggi.

Dengan memperhatikan beberapa aspek persyataran tumbuh yang dikehendaki oleh tanaman jati, maka ada beberapa daerah yang kemungkinan cocok sebagai daerah pengembangan. Daerah tersebut yaitu wilayah Timur Sumatera, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali Timur, dan Nusa Tenggara.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More